Selasa, 05 Mei 2009

Makna Kawan

Kawan biasa, kawan hanya biasa-biasa saja
Kawan karib, kawan yang sangat dekat
Kawan bisnis, kawan yang hanya mendekat karena urusan usaha saja, ketika usahanya sudah tidak ada maka ditinggal
Kawan sejati, kawan yang selalu ada saat duka dan bahagia. Tak kenal dengan segala kondisi apa pun…
Kawan kawin, kawan yang baru saja kawin
Selengkapnya...

Minggu, 03 Mei 2009

Sang Pendobrak Kemenangan

Euforia reformasi masih terasa di mana-mana. Genderang kran kebebasan telah ditabuh, walau masih banyak yang kebablasan menyikapinya. Media menyajikan informasi secara gamblang dan telanjang, politisi saling menghujat, dan rakyat hidup tanpa arah. 12 Februari 1999, Sang pendobrak untuk kemenangan telah datang.


Jelang hari Valentine yang asal muasalnya dari Katolik Roma dan tradisi Roma kuno, sebagai hari peringatan kematian Santo Valentine yang dipenggal pada tanggal 14 Februari 270 M karena mendobrak tradisi kerajaan Romawi yang melarang para prajurit menikah. Walau sebagian kaum muslim melarang memperingatinya, namun hikmah terbesar adalah dengan nurani dan naluri kemanusiaannya, Valentine telah melakukan perubahan dan perlawanan terhadap Raja Romawi Claudius II yang dengan semena-mena memberangus hak asasi manusia.

Kasih sayang adalah hak asasi setiap manusia, sifat ini merupakan sifat kudrati yang dimiliki sang Khalik. Dengan Rahman dan Rahiem-Nya, Allah menciptakan alam dan seisi ini untuk manusia. Dan dengan Maha Kasih dan Maha Sayang-Nya, sang Khalik mengutus para nabi untuk memberi terang dalam hidup, dan menjadi pedoman kehidupan manusia di muka bumi.

Dengan kemurahan dan kasih sayang-Nya pula, Sang Penguasa Hidup memberi kemudahan sang rembulan, yang baru pulang kantor dan menumpang mercy sang bos Korea, Mr. Kong, dengan ketuban pecah dan mengalir di kursi empuk mobil sang bos, tak tahu air apa dan tak mengerti kenapa mengalir deras.

Sementara sang mentari masih menyelinap di antara bising kota Jakarta dan mencari hidup dalam pangkuan sore hari. Jelang malam pukul 20.00 WIB, baru sampai di kerumunan terminal Balaraja, Tangerang – Banten. Mendadak membeli jagung, makanan kami orang kampung untuk bulan dan mentari, namun pedagang malah memberi tiga. Aku tak tahu pertanda apa… namun begitu sampai tidak ada sapa rembulan, hanya kapas terserak di seluruh ruang dan waktu.. kosong…

Dalam kepanikan, terdengar suara lirih sang penolong. Bahwa rembulan telah dibawa ke tempat pertolongan, tanpa basa basi ku kejar, dan rembulan tergelatak dalam kesakitan dan kebimbangan. Hanya sang khalik yang disebutnya, dengan tangan kanan Al-quran dan tasbih di tangan kiri mengiringinya. “Mati sekarang adalah syahid dunia”

Kupasrahkan hidup dan kehinaan diri ini pada sang Khalik. Jelang adzan subuh, di tengah kumandang ayat-ayat suci, lahir sang pendobrak hidup untuk meraih kemenangan, dengan panjang 49 cm dan 2,9 kg. AZNIEL FACHREZY ELFATH (Penyeru dan pengharap kebaikan untuk kemenangan) lahir di awal kehidupan negeri yang baru terlahir lagi paska reformasi 1998.

Sang penyeru datang dari ilham yang tidak diketahui wujudnya, terdengar di tengah bising laju bis AKAP. Semoga lahirnya membawa awal kemenangan dan menjadi pejuang dan pendobrak kecongkakan dunia, dan memberi harapan semua orang.. seperti Khalid bin Walid, Ali Syariati, Khomeini… amin
Selengkapnya...

Minggu, 26 April 2009

Mentari di Pentas Kehidupan

Pemilu 2009 sebagai Pesta rakyat telah usai, namun sisa-sisanya masih berantakan. Genderang peringatan Kartini 21 April, sebagai wanita pendobrak tradisi feodal dan pejuang emansipasi wanita telah dilewati. 23 April Mentari lahir di tengah haru biru dan kepenatan politik.


Sama dengan sang pendahulu, Mentari lahir dengan kuasa dan kemudahan sang Khalik. Vonis manusia yang menakutkan, ternyata tidak ada apa-apanya dibanding dengan kepastian dari Penguasa Kehidupan. Semua terlahir dengan berkah dan kemudahan.

Di pagi subuh yang panas, dan setelah kumandang azan menyapa kahadiran sang Khalik. Dikagetkan dengan keluarnya tanda-tanda kehidupan dari gua sang mentari. "Bangun, segera panggil kereta kencana untuk menjemput!" demikian titah sang ratu. Namun, kepiluan dan kekagetan tetap membahana dalam jiwa, antara menjemput kereta atau mencari apa? Bak bertawaf dan melakukan sai dalam berhaji, lari-lari kecil dalam panggilan sang Kuasa kehidupan dari Safa dan Marwah, begitu hina diri ini, begitu kecil badan ini. Tak punya apa-apa, tak bermakna..

Setelah kereta tiba, dalam keterasingan. Sendiri, tak berteman, sanak saudara, sahabat dan keluarga bagai jauh dari diri ini. Kembali hina diri ini, tak ada pertolongan dari manusia pun, hanya sang Khalik yang kusebut dalam jiwa. Begitu lemah, rapuh diri ini tak bertulang.

Pukul 6.00 sudah terjadi syair pembuka, lamat-lamat jiwa, menelusuri kegersangan jiwa. Sendiri, tak berteman, kawan, sahabat, keluarga tidak ada, disapa pun tak menjawab. Kembali hina diri ini, malu menyapa sang Khalik. Kerdil diri ini. Padahal jelas bahwa hanya kepada sang Khalik diri ini menggantung… akhirnya kupasrahkan semua kehidupan ini pada-NYA…

9.32 Wib saat mentari menjulang, dan di tengah denyut kota Jakarta, diantara lalu lalangnya manusia memulai rutinitas keseharian. 23 April 2009, Mentari lahir tanpa pengawalan sanak saudara, sahabat dan kawan. Hanya malaikat dan mungkin Sang Khalik memberi salam atas kehadiran-Nya. Kumandang azan dan iqamat menjemputnya, “Selamat Datang Kehidupan Baru” seperti firmannya “SALAMUN QAULA MIN RABBY RAHIEM” lahir sang mentari pagi, gadis mungil 3,2 kg dan 50 cm ALVINA AURELLIA ELFATH , sahabat yang akan memakmurkan untuk meraih kemenangan.

Seluruh jagat akhirnya memberi salam…. Semoga menjadi penyemangat dan pembaharu kehidupan, serta penyejuk penatnya dunia… bagai Aisyah, Fatimah Azzahra, Adawiyah atau Hillary Clinton…. Doaku… Semoga
Selengkapnya...

Hati Semayam Kehidupan

Hati atau qalbu merupakan organ tubuh yang menentukan bersih atau kotor fikiran dan jiwa manusia. Sebab hati bagi tubuh manusia mempunyai fungsi penting seperti menyaring darah, menghilangkan racun dan menghasilkan faktor yang membantu darah membeku.


Hati atau dalam bahasa kesehatan sering disebut lever merupakan organ paling besar dan paling berat yang ada di dalam tubuh. Beratnya sekitar 3 pound atau 1,3 kg. Letaknya berada di bagian atas sebelah kanan abdomen dan di bawah tulang rusuk. Organ hati yang cukup besar ini setara dengan fungsinya yang cukup berat.

Lebih dari 500 pekerjaan dilakukan oleh lever. Hati juga menjadi tempat menyaring segala sesuatu yang dikonsumsi maupun dihirup manusia, termasuk yang diserap dari permukaan kulit. Dalam situs Hepatitis Foundation International disebutkan, lever bertindak sebagai mesin tubuh, dapur, penyaring, pengolah makanan, pembuangan sampah, dan malaikat pelindung. Masalahnya, hati merupakan teman yang pendiam. Manakala ada sesuatu yang salah, ia tidak mengeluh hingga terjadi kerusakan lebih jauh.

Begitulah fungsi hati, makanya tidak salah nabi Muhammad SAW bersabda bahwa hati itu penentu jiwa manusia. Jika ia baik maka baiklah hati itu, begitu sebaliknya jika rusak maka rusaklah hati kita. Atau selengkapnya sabda tersebut “Ingatlah bahwa di dalam tubuh manusia ada segumpal organ, bila ia baik maka baiklah seluruh tubuh manusia itu. Dan bila dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Organ itu adalah hati atau qolbun"(HR Bukhari dan Muslim).

Maka dalam hidup ini mestinya kita menjaga hati, dalam hati sanubari segala bentuk kehidupan itu tertanam. Jagalah hati dari penyakit iri, dengki, dan segala yang membuat hati ini tidak bermakna. Renungkanlah Firman Allah SWT "Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada" (QS AL-Haj{22}:46).

Mimik, lidah, gerak-gerik dan perbuatan bisa berbohong. Tetapi dalam hati terdalam pasti ada sebuah kebenaran, yang sangat berbeda dengan tampilan di permukaan kita. Hatilah intisari kebenaran. Untuk itu HATI-hatilah dengan HATI.
Selengkapnya...

Jumat, 17 April 2009

Pemilu Gila, Gila Pemilu

Pemilu 2009 disinyalir oleh para tokoh nasional adalah pemilu terburuk dan kacau. Karena selain persoalan partisipasi politik yang rendah akibat DPT bermasalah di seluruh daerah se-Indonesia juga karena susahnya pemilih membuka kartu suara saking lebarnya (kaya koran) dan diikuti oleh 43 partai dan ratusan caleg, hingga menyusahkan orang untuk mencontreng partai dan caleg pilihannya.


Ternyata setelah mendapat informasi dari koran dan televisi, banyak caleg yang gila. Menyumbang karpet ke mesjid lalu memintanya kembali karena suara di sekitar mesjid tersebut kalah, ada yang telanjang dan teriak-teriak, ada yang meminta mengembalikan uang yang telah disumbangkan.

Belum terhitung caleg yang masuk rumah sakit akibat jantung, drop badannya. Bahkan yang mengerikan caleg mati gantung diri dan mati mendadak setelah melihat di TPS suaranya Cuma 8.

Selain para caleg, ternyata kegilaan itu juga menular pada para tim sukses. Namun kadar gila tim sukses ini tidak segila para caleg. Kalau caleg banyak gila beneran, sedang tim sukses ini gila waktu, gila kerja dan gila-gilaan... Para tim sukses, berhari-hari meninggalkan anak isteri dan ngekos di posko atau center-center. Banyak tim sukses yang berantem dengan istrinya, dan berantakan rumah tangganya. Karena terlalu lama di lapangan, waktu untuk anak isteri tersita. Namun masih untung para tim sukses ini masih ingat jalan pulang, dan wajah isterinya.

“Memang pemilu 2009 ini gila” kata Arman penjaga warung tempat kongkow kami. Kenapa tanyaku, “karena menghasilkan banyak caleg gila, yang tidak menerima kekalahan”

Selengkapnya...

Burung Kejepit

Saking halusnya seorang isteri yang meminta uang kepada suaminya. Maka si isteri berpantun:

Isteri : Burung pipit makan kedondong. Minta duit doong
Suami : Burung pipit makan kedondong. Burungku dijepit dulu dooong.
Selengkapnya...

Gelembung Kursi

Bak anak kecil, para caleg dalam pemilu 2009, ternyata senang bermain gelembung. Mainan air gelembung yang terbuat dari air sabun, dan biasa ditiup anak-anak kecil ternyata mengasyikan dan dari sekali tiup muncullah puluhan gelembung kecil dan besar menghiasi udara, dan hilang begitu saja.


Berbeda dengan anak-anak. Para caleg bermain gelembung untuk mengangkat suaranya yang jeblok, dan mengatrol jadi bertambah. Biasanya permainan ini dilakukan dengan calo-calo politik sebagai operator lapangan dan petugas pelaksana pemilu yang terdiri dari petugas Tempat Pemungutan Suara (TPS), Panitia Pemilih Kecamatan (PPK) dan oknum pegawai KPU.

Permainan gelembung saat suara dihitung ini biasanya dilakukan oleh petugas PPK di tingkat kecamatan. Modusnya, caleg yang berambisi duduk di kursi dewan meminta ‘calo’ untuk mengatur permainan dengan petugas PPK atau meminta caleg dari partai kecil yang sudah tidak kuasa (pasti kalah) untuk melepas (menjual) suaranya kepada caleg yang masih punya harapan.

Hanya dengan handphone sebagai remote control-nya, semua dikendalikan dari satu titik menuju petugas PPK. Barulah petugas mencari celah partai atau caleg mana yang dikurangi dan dipindahkan kepada yang ‘mau membayar’. Aman untuk sementara.

Memang ini suatu permainan yang mengasyikan bagi para caleg yang gila kuasa, pandangannya dari pada gila beneran (stress) kaya caleg-caleg di beberapa daerah yang masuk rumah sakit jiwa atau pengobatan alternatif. Mending melakukan berbagai cara, yang penting tidak jadi gila. Tetapi jadi dewan, bisa menikmati berbagai fasilitasnya. Walau rugi dimuka, tapi untung kemudian. Itupun kalau tidak dicium atau bisa keluar dari jerat KPK..

Bermain gelembung suara ini biasanya juga dilakukan oleh para Ketua partai di suatu daerah, apalagi jika Ketua partai itu juga sebagai kepala daerah. Dengan kekuasaannya bisa memaksa KPU untuk merubah angka-angka suara. Sehingga keluar angka-angka baru dan tinggi, bak gelembung yang ditiup anak-anak.

Karut marut wajah politisi dan tingkah lakunya memang seperti anak kecil tidak berdosa. Jika ketahuan menyalahkan atau mengorbankan orang lain. “Aku gak tahu kenapa suaraku bisa berubah. Berarti kesalahan petugas penghitung” kilah caleg menyalahkan petugas lapangan yang merubah angkanya.

Jadi apa bedanya para caleg, saat penghitungan dan setelah jadi dewan? Tetap seperti ‘anak-anak’. Ingin menang sendiri, merengek untuk disuapi dan menginjak orang lain untuk kesenangan sendiri.
Selengkapnya...